Sambutan bangsa Indonesia terhadap Malaysia begitu gegap gempita akhir-akhir ini. Berbagai budaya yang konon katanya milik Indonesia diklaim milik Malaysia adalah penyebabnya. Sambutan tersebut semakin tampak karena terfasilitasi oleh berbagai media baik cetak maupun elektronik. Di facebook aja contohnya, begitu banyak grup-grup dibuat hanya untuk menyatakan ketidaksenangan mereka terhadap klaim Malaysia tersebut. Berbagai ungkapan dari ratusan ribu member tumpah ruah di situ.
Mulai dari ganyang malaysia, bunuh, bantai, bom aja, hancurkan bahkan deretan kata-kata kotor menggunakan bahasa lokal hingga bahasa alien.
Tak luput juga mengkaitkan peristiwa ini dengan teroris Azhari dan Noordin M Top yang kebetulan berasal dari Malaysia. Malaysia terkesan angker dan suram, yang kapan aja meneror Indonesia.
Lantas dengan dua gembong teroris dan ungkapan ratusan ribu member di atas tadi, mana yang seharusnya lebih angker dan suram, penebar teror? Justru grup tadi tidak ada bedanya dengan gembong tersebut.
Inikah bangsa Indonesia yang diakui beradab? kok penuh caci maki dan sumpah serapah? Apa dengan berkeluh demikian, pemerintah atau mereka mau mendengar? Apa dengan berkeluh demikian, kita bisa berpikir sehat menemukan jalan terbaik? Tentu tidak!
Berbagai budaya yang konon katanya milik Indonesia diklaim milik Malaysia, benarkah milik Indonesia? Mana hak patennya? Apa ada? Tentu tidak! Semua punya aturan.
Apa salah Malaysia mencintai dan mengambil budaya yang tidak dicintai (kalopun dicintai hanya dimulut) dan tidak dipatenkan oleh bangsa Indonesia? Tentu tidak!
Apa salah Malaysia membeli jika klaim bahwa bagian kecil dari bangsa Indonesia ini yang memang menjual budayanya? Tentu tidak!
Saya yang kebetulan mengisi grup seperti di atas tadi, saya mengatakan demikian di sana. Eh saya malah jadi bulan-bulan. Mungkin berpikir dengan dengkul, mungkin larut emosi masih berlaku di Indonesia. Selain gemar tidak punya aturan, kita selalu dininabobokan dengan mulut-mulut manis, jadi ketika menghadapi peristiwa begini tidak terima.
Bukan kacang lupa kulit, bukan tidak menghargai Indonesia, bukan tidak cinta Indonesia (Beberapa grup dan member seolah nasionalis, tapi komentar kemana-mana masih pake bahasa asing tuh!). Justru ini wujud kecintaan saya, walaupun amburadul, kita harus terima. Jangan Indonesia amburadul, tapi Indonesia dipaksa harus tampil wah.
Inilah kita, inilah realita yang harus kita hadapi, bahwa mereka lebih unggul saat ini.
Lihat Menara kembar petronas mereka, kita menyandingkannya dengan Candi produk ratusan tahun lalu! Bahagia saya, jika sekarang kita punya bangunan yang bisa disandingkan dengan Menara kembar petronas mereka, tapi kita hanya sandingkan dengan candi produk ratusan tahun lalu. Tapi? memang hanya candi itulah yang bisa disandingkan.
Berarti kita memang tertinggal ratusan tahun lalu. Apa kita malu mengakui ini? Jika iya, bangsa ini memang besar gengsi dan bebal.
Kita seolah melemparkan kesalahan kita.
Ups.. bahkan mungkin kita tertinggal ribuan, ratusan ribu atau jutaan tahun lalu. Ingat Hawa yang melempar kesalahannya kepada Adam? Itu terjadi di sini!
Jadi saya berterimakasih kepada Malaysia. Semoga dengan peristiwa ini, Bangsaku Indonesia mau berbenah diri. Cukup cinta di mulut saja, cukup tidur dan berleha-lehanya.
Maju Indonesiaku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar